BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum
kami membahas isim ghoiru munshorif kami akan memaparkan tiga pembagian isim ditinjau dari kemunshorifanya ,yaitu:[1]
متمكّن امكن 1
Yaitu
setiap isim yang tidak memiliki keserupaan dengan kalimah huruf dan tidak
memiliki keserupaan dengan kalimah fiil. Isim tersebut dihukumi mu’rob jika
tidak ada pencegah tanwin seperti ال dan idhofah. Seperti contoh زيدٌyang menjadi nama seorang laki-laki.
غيرمتمكّن غير امكن 2
Yaitu
setiap isim yang memiliki keserupaan dengan kalimah huruf didalam wadh’i
,makna, niyabah dan iftiqor.[2]
isim tersebut dihukumi mabni seperti contoh ta’nya lafadz ضربتُ .
متمكّن غير امكن 3
Yaitu setiap isim yang memiliki keserupan dengan kalimah fiil dari
segi sama-sama menempat-nempati dua ilat, ilat yang kembali pada lafadz dan
yang yang kembali pada makna. Isim tersebut tercegah dari tanwin, oleh ulama
nahwu isim tersebut dinamakan isim ghoiru munshorif.
Hukum asli kalimah yang tercegah dari tawin adalah kalimah fiil,
karena fiil memiliki dua ilat far’iyah, yang satu kembali pada lafadz dan yang
satunya lagi kembali pada makna. Yang kembali kepada lafadz karena fiil itu
mustaq dari masdar, sedang lafadz yang mustaq (lafadz yang dicetak) itu cabang
dari mustaq minhu( lafadz yang mencetak ). Sedang ilat yang kembali kepada
makna dikarenakan fiil itu membutuhkan pada fail, sedang butuh kepada lafadz
lain itu cabang dari tidak membutuhkan. Karena memiliki dua ilat far’iyah
itulah fiil tercegah dari tanwin dan jar yang tanda asalnya kasroh. Kemudian
jika ada kalimat isim memiliki dua ilat far’iyah atau satu ilat far’iyah yang
menempati dua ilat, maka kalimat isim tersebut serupa dengan fiil sehingga
tercegah dari tanwin dan jer dan isim tersebut dinamakan isim ghoiru munshorif.
A.
Pengertian
Isim Ghoiru Munshorif
Isim ghoiru munshorif secara bahasa berarti isim yang tidak bisa
menima tanwin shorfi. Menurut ulama nahwu tanwin shorfi adalah tanwin tamkin.
Menurut syarah ibnu aqil tanwin tamkin adalah tanwin yang bertemu dengan isim
mu’rob yang munshorif yang berfaedah menunjukan ringanya isim (karena isim
hanya menunjukan pada makna tanpa disertai zaman) dan berfaedah menunjukan
kalimah isim tersebut menetapi pada keisimanya (karena tidak serupa dengan
kalimah huruf yang dimabnikann tidak serupa dengan fiil yang dicegah dari
tanwin).
Secara istilah isim ghoiru munshorif adalah:
ما فيه علتان من
العلل او واحدة منها تقوم مقامهما سمي به لامتناع دخول الصرف عليه[3]
Isim ghoiru munshorif adalah isim yang mempunyai dua ilat atau satu
ilat yang menempati dua ilat . karena isim ghoiru munshorif memiliki keserupaan
dengan kalimah fiil dari segi sama-sama memiliki dua ilat far’iyah , yang satu
kembali pada lafadz dan yang lain kembali pada makna.
B.
Ilat
Far’iyah
Ilat far’iyah yang bisa menyebabkan tercegah dari tanwin(shorfi)
ada 9,yaitu: wazan fiil, udul, ta’nis, tarkib mazji, ziyadah alif nun,
ajamiyah, sighot muntahal jumu’, alamiyah dan washfiyah. Oleh Bahauddin bin
nuhas dikumpulkan dalam sebuah syair:[4]
اجمع وزن عدلا أنث بمعرفة ≡≡ ركب وزد عجمة فالصف قد كمللا
العلل امّا تمنع من الصرف بنفسها وهي[5]
دلالة
الجمع راجعة الى المعنى فرع عن دلالة الافراد
|
لقيامها
مقام العلتين وهما
|
صيغة
منتهى الجموع
|
كون
الجمع لا نظير له في الاحادى. راجعة الى الفظ فرع عن كون الجمع له نظير
|
||
دلالة
التأنيث راجعة الى المعنى فرع عن دلالة التذكير
|
لقيامها
مقام العلتين وهما
|
التأنيث
بالالف
|
لزوم
التأنيث راجعة الى الفظ فرع عن عروض التأنيث
|
1.
WAZAN
FIIL
Wazan fiil adalah setiap kalimah isim yang mengikuti wazan yang
khusus fiil . seperti فَعَّلَ
atau فُعِلَ atau انفعل dan sesamanya dari setiap lafadz yang dimulai
dengan hamzah wasol atau setiap lafadz yang awalnya terdapat huruf tambahan
(ziyadah) seperti ziyadah fiil أَفْعُلُ , نَفْعُلُ[6] تَفْعُلُ , يَفْعُلُ ,
Contoh wazan fiil bersama alamiah
1)
أَحْمَدُ nama orang
2)
يَزِيْدُ nama orang
3)
تَغْلِبَ nama suatu qabilah
4)
نَرْحَسُ nama tumbuhan
5)
سَمَّرَ nama kudanya hajjaj
bin yusuf
Lafadz-lafadz diatas tercegah dari tanwin (ghoiru munshorif) karena
memiliki dua ilat far’iyah, yang kembali pada lafadz berupa wazan fiil, wazan
fiil itu cabang dari wazan isim, karena fiil dicetak dari isim masdar, sedang
ilat yang kembali pada makna berupa alamiah(dijadikan nama) , sedang alamiah
yang dilalahnya ma’rifat itu cabang dari nakiroh yang dilalahnya umum, sesuatu
itu pada asalnya tidak maklum kemudian dijadikan maklum.[7]
Contoh wazan fiil bersama washfiah
1)
اَصْفَرُ yang muannastnya صفراء
2)
اَحْمَرُ yang muannastnya حمراء
Lafadz tersebut memiliki dua ilat far’iyah, yang kembali pada
lafadz berupa wazan fiil, yang kembali pada makna berupa wasfiah, sedang sifat
itu cabang dari perkara yang disifati (mushuf).
2.
UDUL
قوله
ومنع عدل) وهو خروج الاسم عن صيغته الاصلية)
Udul adalah keluarnya kalimah isim dari bentuk shigot aslinya.[8]
Udul ada 2
1)
Udul
Haqiqi
Yaitu
isim yang mengikuti wazan فُعاَلُ dan مَفْعَلُ, yang digunakan untuk hitungan satu sampai
dengan sepuluh . dua wazan tersebut digunakan untuk memindah dari lafadz-lafadz
hitungan (adad) yang asli yang diulangi .
2)
Udul
Tadiri
Yaitu nama yang
mengikuti wazan فْعَلُ ,yang merupakan pindahan dariفَاعِل dalam taqdirnya.
Contoh udul
bersama alamiah
1)
زُحَلُ perpindahan dari زاحل
2)
زُفَرُ perpindahan dari زافر
3)
عُمَرُ perpindahan dari عامر
Contoh udul bersama wasfiah
1)
أُحَادُ, مَوْحَدُ perpindahan dari واحدوحد
2)
ثُنَاءُ , مَثْنَى
perpindahan dari اثنين اثنين
3)
ثُلَاثُ , مَثْلَثُ
perpindahan dari ثلاثة ثلاثة
Lafadz-lafadz tersebut memiliki dua ilat far’iyah, yang kembali
pada lafadz berupa udul, udul itu cabang dari laadz yang dipindahi (ma’dul
anhu), sedang yang kembali pada ma’na berupa alamiah, yang dilalahnya ma’lum,
cabang dari tidak ma’lum, atau berupa sifat cabang dari maushuf.
3.
TAKNIS
Taknis terbagi menjadi 3, yaitu :
a)
Taknis
Menggunakan ta’
Taknis
yang menggunakan ha’ tercegah dari tanwin (ghoiru munshorif) secara mutlak,
baik untuk isim alam mudzakar ataupun muannast yang hurufnya lebih dari 3 huruf
ataupun kurang.[9]
Contoh
ta’nis menggunakan ta’ bersama alamiah
1)
فَاطِمة
3)
ثبة
4)
قلة
b)
Taknis
maknawi
Taknis
maknawi termasuk isim ghoiru munshorif jika hurufnya lebih dari tiga, atau tiga
huruf yang tengah berharokat(bukan sukun) seperti سَقَرُ
Jika
tiga huruf dan yang tengah mati(sukun) , maka terdapat dua pendapat ,
yaituMunshorif dan ghoiru munshorif. Contoh :
هِنْدٌ , دَعْدٌ
Jika
dua huruf, menurut qoul arjah ghoiru munshorif . contoh: يَدُ
c)
Taknis
menggunakan alif
Syekh Muhamad bin abdullah bin malik
mengatakan dalam alfiahnya, bahwa alif taknis yang menempati dua ilat tercegah
dari tanwin (ghoiru munshorif) secara mutlak, baik alif mamdudah ataupun alif
taknis maqsuroh dan bagaimanapun keadaanya, baik nakiroh, ma’rifat(alam),
mufrod ataupun jamak.
Contohalif taknis mamdudah : صَحْرَاء , حَمْرَاء , أشْياء , زَكَرِيا
Contoh alif taknis maqsuroh : حُبْلى , مَرْضَى, ذِكْرَى
Semua lafadz
tersebut diatas tercegah dari tanwin(ghoiru munshorif), karena memiliki dua
ilat far’iyah, ilat yang kembali pada lafadz taknis , sedang taknis (perempuan)
itu cabangan dari tazkir (laki-laki), karena setiap lafadz dicetah untuk
haqiqotnya , sedang haqiqotnya lafadz itu untuk laki-laki jika tidak ada huruf
tambahan dan bisa menunjukan perempuan jika diberi tambahan alamat taknis,
sedang ilat yang kembali pada makna berupa alamiah yang dilalahnya maklum
merupakan cabang dari tidak maklum.
4.
TARKIB
MAZJI
Tarkib mazji
adalah gabungan dari dua nama yang yang membentuk suatu kesatuan nama, yang
bukan tarkib idhofi, tarkib isnadi, dan tarkib isnadi. Tarkib mazji yang ghoiru
munsorif adalah yang diakhiri selain lafadh waih . adapun yang di akhiri
dengan waih maka mabnikasr .[10]
Seperti contohبعلبك ,معدكرب, بعلبك lafadh ini ghoiru
munshorif karena memiliki dua ilat far’iyah, yang kembali pada lafadh berupa
tarkib . sedang tarkib itu cabang dari mufrod, ilat yang kembali kepada makna
berupa alamiyah yang dilalahnya maklum, cabang dari tidak maklum.
5.
ZIYADAH
ALIF DAN NUN
Yaitu tambahan alif dan nun bersamaan dengan alamiyah atau wasfiyah
dengan syarat jika dimuanastkan tidak diberi tambahan ta’ .
Contoh :
Alamiah : عمران , عثمان
Wasfiyah : سكرانyang muannastnya سكرى
عطشانyang
muannasnya عطشى
Lafadh-lafadh
tersebut tercegah dari tanwin karena memiliki dua ilat far’iyah, yang kembali
pada lafadh berupa ziyadah(tambahan), cabang dari mazid alaih, sedang ilat yang
kembali pada makna berupa alamiah atau wasfiah.
6.
AJAMIYAH
Yaitu kalimah yang dicetak ‘ajam(bukan Arab).
Kalimah ajam bisa tercegah dari menerima tanwin dengan dua syarat :[11]
·
Merupakan
alam(nama) dalam bahsa ajamnya
·
Lebih
dari 3 huruf
Contoh ابراهيم , اسحاق, اسماعيل يعقوب,
Nama-nama nabi
semua ajamiyah kecuali 4 nama, sebagaimana yang disyairkan sebagian ulama’:[12]
هود شعيب صالح
محمّد ≡أوضاعها في العجم ليست توجد
رضوان مالك نكير
منكر≡ أمثالها في حكم ما قد ذكروا
Tetapi nama Ridwan
tercegah dari tanwin karena mempunyai ilat alamiah dan ziyadah alif nun.
Jika terdiri dari
3 huruf maka bisa ditanwin, seperti نوح , لوط .
Lafadh-lafadh
tersebut termasuk isim ghoiru munshorif karena memiliki dua ilat far’iyah, yang
kembali pada lafadh berupa ajamiyah, sedang ajamiyah itu cabang dari arabiyah,
karena hak-hak tiap bahasa itu tidak dicampuri bahasa lain, sedang ilat yang
kembali pada makna berupa alamiyah .[13]
7.
SHIGHOT
MUNTAHAL JUMU
Yaitu : setiap
isim yang setelah alif taksir terdapat dua huruf atau tiga huruf yang tengah
mati, baik awalnya berupa mim ataupun tidak.[14]
Shighot
tersebut dinamakan shighot muntahal jumu karena tidak mungkin dijamakan taksir
lagi. Ada Qoyyid dengan taksir karena memungkinkan untuk
dijamakan secara salim, baik mudzakar salim ataupun muannast salim, seperti
contoh صواحب yang boleh dijamakan dengan. صواحبات[15]
Contohمساجد , صوامع , مصابح , قنادل ,
Shighot
muntahal jumu tercegah dari tanwin karena memiliki satu ilat yang menempati dua
ilat, yang kembali pada makna berupa jama, cabang dari makna mufrod, sedang
yang kembali kepada lafadh karena didalam bentunya الجمع اقصىcabang dari shighot mufrod .
8.
‘ALAMIYAH
Yang dimaksud
adalah lafadh yang dijadikan nama, karena dilalahnya maklum, cabang dari tidak
maklum, karena perkara itu pada asalnya dicetak tidak tertentu kemudian
ditentukan, alamiyah bisa tercegah dari tanwin jika bersamaan dengan ilat yang
kembali kepada lafadh yaitu: wazan fiil, udul, ziyadah alif nun, ajamiyah,
tarkib mazji, dan taknis .
9.
WASFIAH
Wasfiah atau
sifat merupakan ilat far’iyah yang kembali makna, karena sifat itu cabang dari
maushuf (perkara yang dishifati). alamiyah bisa tercegah dari tanwin jika
bersamaan dengan ilat yang kembali kepada lafadh yaitu: wazan fiil, udul,
ziyadah dan alif nun. Sifat jika bersamaan dengan ziadah alif nun disyaratkan
harus mengikuti wazan فعلانyang
muannastnya فعلى dan jika bersamaan dengan wazan fiil
disyaratkan mengikuti wazanافعل yang muannastnya tidak
menggunakan ta’ .
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Isim ghoiru munshorif adalah isim yang mempunyai dua ilat atau satu
ilat yang menempati dua ilat . karena isim ghoiru munshorif memiliki keserupaan
dengan kalimah fiil dari segi sama-sama memiliki dua ilat far’iyah , yang satu
kembali pada lafadz dan yang lain kembali pada makna.
Ilat far’iyah yang bisa menyebabkan tercegah dari tanwin(shorfi)
ada 9,yaitu: wazan fiil, udul, ta’nis, tarkib mazji, ziyadah alif nun,
ajamiyah, sighot muntahal jumu’, alamiyah dan washfiyah. Oleh Bahauddin bin
nuhas dikumpulkan dalam sebuah syair:
اجمع وزن عدلا أنث بمعرفة ≡≡ ركب وزد عجمة فالصف قد كمللا
Daftar Pusaka
Syarah
ibnu aqil
Hasiyah
Tasywiqul kholan
Syarah
asymawi
Terjemah
wustho alfiah
Syarah
fathul rabbul bariyyah
Syarah
kawakibud durriyah
Mu’jamul
mufassol fil i’rob
Syarah
bahjatul murdhiyyah
[1]
Tasywiqul kholan.alharomain,hal.77
[2] Alfiah
ibnu malik. Alharomain, hal.6
[3] Bahjatul
murdhiyah ala syarhi alfiyah:alharomain ,hal149
[4]
Tasywiqul kholan. Alharomain, hal.77
[5] Terjemah
wustho alfiah ibnu malik. Alhidayah, hal.311
[6]
Tasywiqul kholan . alharomain : hal 78-79
[7] ibid
[8] Bahjatul
murdhiyah ala syarhi alfiyah:alharomain ,hal:150
[9] Syarah
ibnu aqil. Alharomain, hal: 152
[10] Fathul
rabbul bariyyah . alhidayah. Hal: 18
[11] Syarah
ibnu aqil. Alharomain .hal:152
[12] Fathul
rabbul bariyyah. Alharomain. Hal:18
[13]
Taswiqul khollan . alharomain.hal: 79
[14] Syarah
ibnu aqil. Alharomain.hal:151
[15] Fathul
rabbul bariyyah . alharomain: 18
No comments:
Post a Comment