Thursday, 24 October 2013

MAF'UL BIH LENGKAP



PEMBAHASAN

A. Pengertian  Maf’ul Bih
المفعول به هو اسم منصوب يدل على شئٍ وقع عليه فعل الفاعل اثباتا او نافيا ولا تغير لاجله صورة الفعل
مفعول به adalah isim manshub yang menunjukan suatu arti dimana perbuatan فاعل jatuh padanya, baik dalam posisi isbhat (positif) atupun nafi (negatif) dan bentuk فعل sama sekali tidak berubah .Contoh:
 (+)  أكلتُ الرزَّ  (saya telah makan nasi)
 (-)ما أكلتُ الرزَّ  (saya tidak makan nasi).
Maf’ul bih bisa didefinisikan juga إسم منصوبٌ الّذى يقع به الفعل (isim manshub yang menjadi sasaran perbuatannya فاعل. Contoh:ضربتُ الكلبَ (saya telah memukul anjing), kata الكلبَ itu merupakan maf’ul bih karena jadi sasaran yang memukul.
B.  Fi’il Muta’adi dan Lazim
a)      Fi’il Lazim
Yaitu fi’il yang maknanya tidak bisa sampai pada maf’ul bih kecuali dengan perantaraan huruf jar seperti: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ atau fi’il yang tidak ada maf’ul bihnya yang bukan karena pembuangan seperti :قام زيد
 Fi’il lazim dinamakan juga fi’il qoshir karena dicukupkan hanya dengan fail.
Fiil –fiil yang ditentukan kelazimannya:
1)       Fi’il-fi’il yang menunjukkan arti watak. Seperti;   نهم شرف كرم ظرف
2)      Fi’il-fi’il yang mengikuti wazanاِفْعَلَلَّ    .Seperti : اقشعرّ اطمعأنّ
3)      Fi’il yang mengikuti wazanاِفْعَنلل    .Seperti:    اِقْعَنْسَسَ  اخرنجم
4)      Fi’il yang menunjukkan makna bersih atau kotor.Seperti :طهر نظف دنس وسخ
5)      Fi’il yang menunjukkan makna sifat yang baru terjadi selain gerakan.Seperti:  كسل مرض
6)      Fi’il yang menjadi muthowa’ahnya fi’il yang mutaaddi pada satu maf’ul, seperti:  مَدَّهُ فَامْتَدَّ      
  كسّرت الزجاج فتكسّر 
7)  Fiil yang menunjukan warna .Seperti : احمرّ  احضرّ
·         Cara memuta’adikan fiil lazim
1. Dengan menambahkan hamzah qot’i di awalnya sehingga membentuk wazan أَفْعَلَ
خَرَجَ  menjadi    أَخْرَجَ  
كرم   menjadiأكرم    
2. Dengan menasdidkan ‘ain fi’ilnya menjadi فَعَّلَ (fa’ ‘ala)
Contoh :
 عظمmenjadi    عظّم   , فرح   menjadi     فرّح
 فرح  menjadi     فرّح
3. Dengan  perantara huruf jer
Contoh :
ذَهَبَ اللهُ بِنُوْرِهِمْ      
أعرض عن الرذيلة
b)     Fiil muta’adi
Fi’il muta’adi yaitu: “Fi’il yang maknanya bisa sampai pada maf’ul bihnya tanpa perantaraan huruf jar”. Contoh: فتح طارق الاندلس
Fi’il muta’adi juga dinamakan fi’il waqi’ karena pekerjaannya terjadi pada maf’ul bih, juga dinamakan fi’il mujawiz, karena pekerjaannya melewati dan sampai pada maf’ul bih.
·         Tanda Fi’il Muta’adi yaitu:
 1.Apabila bisa ditemukan dengan ha’ dlomir yang rujuk pada selain masdarnya fi’il .
Contoh:  الباب غفلته
Sedangkan Ha’ dlomir yang rujuk pada masdarnya fi’il tidak bisa dijadikan tandanya fi’il muta’adi, karena dengan hal itu bisa ditemukan fi’il muta’adi dan fiil lazim. Seperti:
yang bertemu fi’il lazim contoh:  اَلْخُرُوْجُ خَرَجَهُ زَيْدٌ
yang bertemu fi’il muta’adi contoh: اَلضَّرْبُ ضَرَبَهُ زَيْدٌ
2.Bisa dicetak isim maf’ul yang tam seperti مقت فهو ممقوت. Maksudnya tam yaitu tidak membutuhkan huruf Jar ketika dicetak menjadi isim maf’ul . Jadi apabila dicetak isim maful akan membutuhkan huruf jar ,maka fiil itu dikategorikan lazim seperti :
غضبت على زيد فهو مغضوب عليه 
·         Keadaan Fi’il Muta’adi
Maf’ul bih akan menashobkan pada maf’ul bihnya apabila tidak menjadi naibul fa’il.
Contoh : تَدَبَّرْتُ الْكُتُبَ
Apabila dijadikan naibul fail maka dibaca rofa’,maka diucapkan: تدبرت الكُتُبُ
·         Macam-macam fiil muta’adi dilihat dari maknanya
1.      Muta’adi binafsih yaitu sampainya pekerjaan fail atas maf’ul bih secara langsung atau tanpa perantara huruf jar  بريت القلم
2.      Muta’adi bighoirih yaitu sampainya pekerjaan fail atas maf’ul bih dengan perantara huruf jar seperti:  ذهب الله بنورهم
·         Pembagian Fi’il Muta’adi dilihat dari banyaknya maf’ul bih
Fi’il muta’addi dibagi menjadi tiga, yaitu:
1)      Fi’il yang muta’adinya pada satu maf’ul Seperti:كتب ,اخذ ,عفر  ,ضَرَبَ
2)      Fi’il yang muta’adi pada dua maf’ul   bih
Fi’il yang muta’adi pada dua maf’ul bih ada dua macam:
a.       Fiil muta’adi yang maf’ul bihnya bukan berasal dari mubtadak dan khobar.
Seperti:    اعطى, سأل ,منح ,منع ,كسا ,علّم
b.      Fiil muta’adi yang maf’ul bihnya berasal dari mubtadak dan khobar.
Yaitu: أفعال القلوب    dan  أفعال التحويل
3)      Fi’il yang muta’adi pada tiga maf’ul
Seperti:أرى, أنبأ, نبّأ, أخبر ,خبّر ,حدّث     dan أعلم

C. Macam-macam  Maf’ul bih
1. Macam-macam maf’ul bih
maf’ul bih ada dua macam yaitu صريح dan غير صريح.
a. صريح
صريح terbagi menjadi dua macam yaitu:
-اسم ظاهر  contoh: كَتَبَ أحمدٌ الدّرسَ
- اسم ضمير متصل contoh:اَكْرمْتُكَ واَكْرَتَهُمْ.
اسم ضمير منفصل - contoh: إيّكَ نَعْبُدُ وإِيّكَ نَسْتَعِيْنُ
b. غير صريح
غير صريح ada tiga macam bentuk , yaitu:
1. مؤوّل بِمصْدر بعدَ حرفٍ مَصْدريٍ (dita’wilkan dengan masdar, setelah huruf masdar)
Contoh: علمتُ أنّكَ مجْتحدٌ
2. جملة مؤوّلة بمفردٍ (jumlah yang dita’wilkan dengan isi mufrad)
Contoh: ظنَنْتكَ تجتحدٌ (aku mendugamu orang yang rajin)
3. جرّ ومجرور
Contoh: أمسكتُ بيدكَ (saya memegang tanganmu)
Kadang-kadang isim yang majrur menjadi مفعول به غير صريح itu huruf jarnya dihilangkan dengan demikian isim tersebut menjadi منصوب , kemudian disebut المنصوب على نزاع الحفظ (berstatus nashab dengan menghilangkan huruf jarnya) . Seperti:
واختار موسى قومه سبعين رجولا  :الاعراب 155 , اي :من قومه     menurut madzhab jumhur pembuangan huruf jar tersebut tidak dapat diqiyaskan kecuali jika bersama أن  dan أنّ .Seperti :  عجبت ان يدو

D. Hukum-Hukum Maf’ul bih
a. Wajib dibaca nashab
b. Boleh membuang maf’ul bih karena ada suatu dalil
Contoh : يقالُ: هل رأيتَ خليلاً ؟ فتثول: رأبت
c. Diperbolehkan membuang fi’ilnya jika ada dalil.
Contoh: كقوله تعالى: ماذا أنزل ربُّكم  قالوا خيراً. أي أنزلَ خيراً
Bahkan ada dalam kata-kata pepatah arab justru fi’il yang menashabkan maf’ul bih wajib dibuang. Seperti dalam contoh: أي: ارسلِ الكلبَ الكلبَ على البقرِ
أهلا وسهلا أى : جئت أهلا ونزلت أهلا
Dan juga fiil wajib di buang dalam bab استغال  .Seperti :   ضربتهزيدا                                                                                                                                   
d. Maf’ul bih di akhirkan atau terkadang didahulukan atas fail atau terkadang didahulukan atas fiil dan fail .

E. Mendahulukan Maf’ul bih dan Mengakhirkannya
1. Mendahulukan maf’ul bih dan Mengakhirkannya atas fail
hukum asal adalah mendahulukan fail dan mengakhirkan maful bih  dan terkadang  maf’ul bih boleh didahulukan contohnya: كَتَبَ أحمدٌ الدرسَ, كَتَبَ الدرسَ أحمدٌ (pelajaran telah ditulis ahmad).
·           Mengakhirkan maf’ul bih hukumnya wajib apabila:
a.       Jika ada diketahui ada keserupaan dan timbul keraguan lantaran i’rob yang masing-masing lafadz dan tanda-tandanya tidak jelas serta tidak diketahui mana yang فاعل dan mana yang مفعول. Contoh: علّمَ موسىَ عيسىَ.
b.       Fail dan maf’ul bih keduanya berupa اسم ضمير dan tidak ada pengkhususan antara salah satunya. Contoh: اكرمته
c.       Fail berupa ضمير متصل   dan maf’ul bih berupaاسم ظاهر, maka dalam hal ini didahulukan اسم ضمير. Contoh: أكرمتُ علياً
d.      Maf’ul bih menjadi sasaran pengkhususan dari fi’il dengan menggunakan lafadz إلاَّ dan nafi atau إنّما . contoh : ما ضرب الا زيدا

·           Mendahulukan maf’ul bih atas failnya hukumnya wajib apabila:
a.       Fail terikat dengan ضمير yang kembali kepada maful bih, maka fail wajib diakhirkan dan maf’ul bih wajib didahulukan. Contoh:أكرم سعيداً غلامه
b.      Maf’ul bih berupa ضمير متصل dan fail berupa اسم ظاهر. Contoh:زيد أكرمك
c.   Fail menjadi sasaran pengkhususan dari fi’il dengan menggunakan lafadz إلاَّ dan nafi atau إنّما .Contoh :                        ما ضرب زيدا الا عمر                    
·           Mendahulukan Maf’ul bih atas fiil dan failnya
Hal-hal yang menjadikan Maf’ul bih wajib didahulukan adakalanya yaitu :
a.         Maf’ul bih berupa اسم شرط contoh: أيّهم تكْرمْ أُكرِم  atau di mudhofkan pada اسم شرط contoh:       هدي من تتبع يتبع بنوك
b.        Maf’ul bih berupa اسم إستِفهَامْ contoh: منْ أكرمْتَ ,ما فعلت  ,     كم كتابا اشتريت  atau di mudhofkan pada اسم إستِفهَام  contoh     كتاب من أخذت     
c.         Maf’ul bih berupa lafadz كم atau  كأيِّنْyang mempunyai makna khobariyah.
Contoh: كمْ كتبٍ ملكتُ! (banyak sekali kitab yang saya miliki), كأيّن منْ علمٍ حويتُ (banyak sekali ilmu pengetahuan yang saya himpun)
d.  Maf’ul bih dinasobkan oleh jawabanya lafadz أمّا dan tidak ada isim mansub yang di    dahulukan selainya , contoh: فأمَّا اليَتِيْمَ فَلاَتَقْهَرْ
e.    Maf’ul bih berupa ضمير منفصل      contoh   اياك نعبد:
·           Mendahulukan salah satu dari dua maf’ul bih
Contoh: علمتُ اللهَ رَحِماً(saya meyakinkan bahwa Allah maha penyayang).
Kecuali masalah diatas, ada ketentuan bahwa salah satu dari dua maf’ul bih itu ada yang wajib didahulukan atas empat macam, yaitu:
a. Jika di khawatirkan ada keserupaan, maka wajib mendahulukan maf’ul pertama, contoh: أعطيتُك أخاكَ (saya telah memberikan engkau kepada saudaramu).
b. Mendahulukan اسم ضمير dan mengakhirkan maf’ul bih yang berupa اسم ظاهر ketika salah satu dari dua maf’ul bih berupa اسم ظاهر dan yang lain berupa اسم ضمير ,
contoh: أعطيتُكَ درهماً
c. Salah satu maf’ul bih menjadi sasaran pengkhususan dari fiil dalam hal ini wajib mengakhirkan maf’ul bih, baik berupa مفعول أوّل/مفعول الثانى , contoh:
ما أعطيْتُ سعدًا الاّ درهماً
d. Maf’ul bih memakai ضمير kembali kepada مفعول الثانى , maka wajib mengakhirkan مفعول اوّل dan mendahulukan مفعول الثانى , contoh:
أعْطِ القَوْس باَريهاَ (berikanlah busur itu kepada orang yang merautnya).

f.                         Lafadz Yang Menyerupai Maf’ul Bih
Apabila lafadz yang diamalkan oleh الصفة المشبهة معرفة, maka punya hak dibaca rafa’ karena sebagai فاعل nya, contoh: عليٌّ حسنٌ حُلُقُهُ (ali adalah orang yang baik budi pekertinya), hanya saja apabila bertujuan untuk makna mubhalaghah, maka mereka memindahkan fungsinya, dengan cara sifat musyabihat itu merafa’kan فاعل yang merupakan ضمير yang tersimpan yang kembali ke lafadz sebelumnya.
Kemudian yang tadinya menjadi فاعل dibaca nasob berfungsi sebagai lafadz yang menyerupai maf’ul bih. contoh: عليٌّ حسنٌ حُلُقهُ dengan dibaca nasob pada lapadz حُلُقُهُsebagai lafadz yang menyerupai maf’ul bih. Sebab sifat musyabihat adalah lazim, artinya tidak dapat menashobkan maf’ul bih, dan juga bukan menjadi tamyiz karena berupa اسم معرفة, sedangkan ketentuan تمييز adalah harus berupa اسم نكرة.

G. I’rob surat Al baqoroh :22

الذّى جعل لكم الارض فراشا والسماء بناءً وأنزل من السماء ماءً فأخرج به من الثمرات رزقا لّكم

الذّي : اسم موصول مبني على السكون في محل نصب صفة ل "ربّكم" او في محل نصب مفعول به للفعل "تتّقون" الوارد في اخر الاية السابقة او في محل رفع خبر لمبتدأ محذوف تقديره :هو . جعل : فعل ماض مبني علي الفتح لفظا , وفاعله ضمير مستتر فيه جوازا تقديره : هو , وجملة "جعل" لا محل لها من الاعراب الأنها صلة الموصل . لكم : اللام حرف جرّ مبني علي الفتح ,"كم" : ضمير متصل مبني علي السكون في محل جرّ بحرف الجرّ . والجار والمجرور متعلقان بالفعل "جعل" . الأرض : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد . فراشا : حال منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد  ,او مفعول به ثان . اذا كان الفعل "جعل" بمعني "صيّر ", لا "خلق" . والسماء :الواو حرف عطف مبني علي الفتح  ."السماء" اسم معطوف منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد . بناءً : حال منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد  ,او مفعول به ثان . اذا كان الفعل "جعل" بمعني "صيّر ", لا "خلق" وأنزل : الواو حرف عطف مبني علي الفتح لفظا "انزل" : فعل ماض مبني علي الفتح لفظا , وفاعله ضمير مستتر فيه جوازا تقديره : هو , وجملة "انزل" معطوف علي جملة "جعل" لا محل لها من الاعراب . من : حرف جرّ مبني علي السكون , وقد حرّك بالفتح منعا من التقاء ساكنين . السماء : اسم مجرور بالكسرة الظاهرة لأنه اسم مفرد .والجار والمجرور متعلقان بالفعل "انزل" . ماءً : : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد. فأخرج :الفاء حرف عطف مبني علي الفتح لفظا "أخرج" : فعل ماض مبني علي الفتح لفظا , وفاعله ضمير مستتر فيه جوازا تقديره : هو , وجملة " أخرج " معطوف علي جملة "أنزل" لا محل لها من الاعراب. به: الباء: حرف جرّ مبني علي الفتح, وقد حرّك بالفتح منعا من التقاء ساكنين . الثمرات : اسم مجرور بالكسرة الظاهرة لأنه جمع المؤنّث السالم . والجار والمجرور متعلقان بالفعل" أخرج". رزقا : مفعول به منصوب بالفتحة الظاهرة لأنه اسم مفرد. وجملة " أخرج به من الثمرات رزقا " معطوف علي جملة "أنزل" لا محل لها من الاعراب. لكم: : اللام حرف جرّ مبني علي الفتح ,"كم" : ضمير متصل مبني علي السكون في محل جرّ بحرف الجرّ . والجار والمجرور متعلقان بمحذوف صفة ل"رزقا" .






 

PENUTUP


Kesimpulan

A. Pengertian  Maf’ul Bih
المفعول به هو اسم منصوب يدل على شئٍ وقع عليه فعل الفاعل اثباتا او نافيا ولا تغير لاجله صورة الفعل .
B.  Fi’il Muta’adi dan Lazim
1.      Fi’il Lazim
Yaitu fi’il yang maknanya tidak bisa sampai pada maf’ul bih kecuali dengan perantaraan huruf jar seperti: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ atau fi’il yang tidak ada maf’ul bihnya yang bukan karena pembuangan seperti :قام زيد
2.      Fiil muta’adi
Fi’il muta’adi yaitu: “Fi’il yang maknanya bisa sampai pada maf’ul bihnya tanpa perantaraan huruf jar”. Contoh: فتح طارق الاندلس
·         Pembagian Fi’il Muta’adi dilihat dari banyaknya maf’ul bih
Fi’il muta’addi dibagi menjadi tiga, yaitu:
1)      Fi’il yang muta’adinya pada satu maf’ul Seperti:كتب ,اخذ ,عفر  ,ضَرَبَ
2)      Fi’il yang muta’adi pada dua maf’ul   bih
Fi’il yang muta’adi pada dua maf’ul bih ada dua macam:
a.       Fiil muta’adi yang maf’ul bihnya bukan berasal dari mubtadak dan khobar.
Seperti:    اعطى, سأل ,منح ,منع ,كسا ,علّم
b.      Fiil muta’adi yang maf’ul bihnya berasal dari mubtadak dan khobar.
Yaitu: أفعال القلوب    dan  أفعال التحويل
3)      Fi’il yang muta’adi pada tiga maf’ul
Seperti:أرى, أنبأ, نبّأ, أخبر ,خبّر ,حدّث     dan أعلم
Hukum-Hukum Maf’ul bih
a. Wajib dibaca nashab
b. Boleh membuang maf’ul bih karena ada suatu dalil
c. Diperbolehkan membuang fi’ilnya jika ada dalil.
d. Maf’ul bih di akhirkan atau terkadang didahulukan atas fail atau terkadang didahulukan atas fiil dan fail .
Lafadz Yang Menyerupai Maf’ul Bih contoh: عليٌّ حسنٌ حُلُقهُ dengan dibaca nasob pada lafadz حُلُقُهُ sebagai lafadz yang menyerupai maf’ul bih.

Daftar Pustaka



جامع الدرس العربية. المكتبة العصرية: صيدا بيروت
قواعد اللغة العربية .دار الكتب: المملكة العربية السعودية.
النحو الوافى
شرح ابن عقيل على الفية ابن مالك
شرح البهجة المرضية على الفية ابن مالك
المعجم المفصل في الاعراب