Tuesday, 30 September 2014
Saturday, 28 June 2014
توبة العابد والمرأة البغى (qiroah)
توبة العابد والمرأة البغى
كانت امرأة بغى، لها ثلث الحسن لا تمكّن من نفسها إلا
بمائة دينار ، وإنّه أبصرها عابد فأعجبته ، فذهب فعمل بيده وعالج فجمع مائة دينار،ثم
جاء اليها، فقال :إنّك أعجبتنى فانطلقت فعملت بيدى ، وعالجت حتى جمعت مائة دينار ،
فقالت له :ادخل فدخل،و كانت لها سرير من الذهب ،فجلست على سريرها ، ثمّ قالت له :
هلمّ فلمّا جلس منها مجلس الخاتن ـ أى الزوج ـ ذكر مقامه
بين يدي الله فأخذتـه رعدة فقال لها :اتركيني اخروج ولكِ المائة دينار، قالت مابدا لك وقد زعمتُ أنّك
رأيتني فأعجبتك فذهبت فعالجت وكددت حتي جمعت مائة دينار ، فلما قدرت عليّ فعلتَ
الذي فعلتَ ؟ فقال: فرقا اي خوفا- من الله ومن مقامي بين يديه وقد بغضتَ اليّ ،
فقالت ان كنت صادقا فما لي زوجٌ غيرك ، فقالت : دَعِيني اَخرُج، فقالت لا الاّ ان
تجعل لي ان تُزوِّج بي قال : لا حتي اخرُج فلي عليكِ اِن انا اتيتُكِ ان
تتَزَوَّجني ؟ قال لعل فتقنع بثوبه ثم خرج الي بلده وارتحلت تائبة نادمة علي ماكان
منها حتي قدمت بلده ، فسألت عن اسمه و منزله ، فدلت عليه ، فقيل له : انّ الملكة
(الحسن ) قد جاءتك ، فلما رأها شهق شهقة
فمات وسقط فى يدها ، وقالت : أما هذا فقد فاتنى ، فهل له من قريب ؟ قالوا : أخوه
رجل فقير ، فانّى أتزوّجه حبّا لاخيه ، فتزوجته .
makalah HAL lengkap (unwaha)
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN HAL
Hal secara bahasa artinya “keadaan/sikap. Dalam istilah ilmu nahwu
hal adalah isim yang dinasabknan yang menjadi penjelas dari sesuatu sikap yang
masih belum terang, baik itu dari fail atau maf’ul atau keduanya. Dalam tata
bahasa indonesia hal ini dinamakan kata keterangan kualitatif.
Beberapa ulama nahwu memberikan pengertian hal sebagai berikut :
·
الحال هو الاسم المنصوب المفسر لهيئة صاحبه عند حصول معنى عامله فهو
وصف في المعنى لصاحبه قيد لعامله [1]
Dari tiga
definisi di atas dapat disimpulkan hal adalah sifat yang fadhlah lagi
dinasabkan dan memberi keterangan keadaan shohibul hal (yang
masih belum diketahui atau samar) yang berupa fail
atau maf’ul bih atau keduanya atau selain keduanya. Contoh :
تكلَّم صادقا
.وانقل الخبر صحيحا . لقيت عبد الله راكبين . هذا الهلال طالعا . أنت مجتهدا أخى
.سريت الليل مظلما .
Pada definisi
diatas kata “sifat” merupakan jinis yang mencakup khobar, naat dan lain-lain.
Sifat tersebut tidak dibedakan baik yang mustaq dari fiil ataupun yang berupa
isim jamid yang di takwil. Selanjutnya sifat itu diqayyidi harus berupa
fadhlah. Menurut kitab jami’ud durus fadhlah adalah yang selain musnad dan
musnad ilaih atau sesuatu yang dicukupkan tanpa penyebutanya.
B. SYARAT-SYARAT HAL
a. Berupa Sifat yang Muntaqil (isim yang menunjukkan arti
sifat yang bisa berpindah-pindah, tidak selalu menetapi pada shohibul
halnya saja).
Contoh:جَاءَ مُحَمَّدٌ رَاكِبًا
.Sifat naik itu hanya senantiasa berada pada Muhammad. Karena, bisa juga dilain
hari ia dating dengan tidak naik, dan begitu seterusnya.
Syarat hal itu berupa
sifat, tetapi terkadang keluar dari qaidah asal bahwa hal harus berupa sifat
yaitu hal yang berupa masdar. Bahkan ibnu malik mengatakan hal yang berupa
masdar itu banyak ditemukan.[4] Contoh :
زيد طلع بغتة
Kadang-kadang, hal
itu juga terdiri dari isim sifat yang tidak muntaqil seperti
contoh: دَعُوْتَ اللهَ
سَمِيْعًا . Sifat
mendengar ini tidak bisa terpisah oleh Allah.
Juga seperti syair berikut ini.
فجاءت به سبط العظام كأنما ۞ عمامته بين الرجال لواء
b. Berupa Isim Mustaq.
Isim yang menjadi hal
harusnya berupa isim mustaq seperti contoh :
أذهب ماشيا
Tetapi terkadang hal itu
ada yang terdiri dari isim jamid jika bisa dita’wil musytaq dan
juga paling banyak ialah bila isim jamid tersebut menunjukkan arti harga, arti
musyarakah مفاعلة (suatu pekerjaan yang
dilakukan oleh dua pihak), menyerupakan dan tartib. Contoh:
1) Menunjukkan arti harga
Contoh: بِعْهُ مُدًّا
بِدِرْهَمٍ → taqdirnya بِعْهُ مُسْعَرًا كَلُّ
مُدٍّ بِدِرْهَمٍ
2) Menunjukkan arti tasybih (menyerupakan)
Contoh: كَرَّ زَيْدٌ أَسَدًا → taqdirnya كَرَّ زَيْدٌ شُجَاعًاكَالْأَسَدِ
3) Menunjukkan arti )مفاعلةmusyarakah)
Contoh: كَلَّمْتُ مُحَمَّدًا
فَاهُ إِلَى فِيَّ → taqdirnya كَلَّمْتُ
مُتَشَافِهَيْنِ
4. menunjukan tartib[5]
Contoh: دخل القوم رجلا رجلا → taqdirnya مترتبين دخل القوم
“sesungguhnya Kami telah
menurunkan al-Qur’an yang berbahasa Arab”
c.
Berupa Isim Nakiroh
Sebagaimana dalam Alfiah ibnu malik
yang di terangkan kembali dalam ibnu aqil bahwa hal harus berupa isim nakiroh
supaya tidak disangka sebagai naat, apabila shohibul halnya mansub, sedang
selain mansub disamakan.[7]
Dan terkadang hal berupa isim ma’rifat yang tidak bisa dikiaskan pada hal yang
lain. Contoh: جاء الضيف وحده
C. AMIL HAL
Amil hal itu ada 4 macam, yaitu:
a.
Terdiri dari fi’il
muttashorif
جَاءَ مُحَمَّدٌ رَاكِبًا
b. Terdiri dari lafadz yang mengandung arti dan
huruf-huruf fi’ilnya yang muttashorrif dan bisa ditasniyahkan, dijamakan serta
bisa dimu’annatskan, seperti: isim fa’il, isim maf’ul, isim sifat musyabahah
dan sighat muballaghah.
مُحَمَّدٌ راحل مسرعا
c. Terdiri dari lafad yang mengandung arti dan huruf-huruf fi’ilnya
yang muttasharrif. Akan tetapi, tidak bisa ditasniyahkan, dijama’kan dan tidak
bisa juga dimu’annatskan, yaitu: isim tafdhil dan fi’il ta’ajjub.
زيد مفردا أنفع من عمرو معانا
d. Terdiri dari lafadz yang mengandung arti fi’il, akan tetapi tidak
mengandung huruf-hurufnya, seperti: isim fi’il, isim isyarah, adawat tasyibih, adawat tamami, adawat
tarojji, adawat istifham, huruf tanbih, jer majrur, dhorof dan huruf nida’.
فتلك بيوتكم خويةً بما ظلموا ( النمل :٥۲)
Amilnya hal kebanyakan disebutkan dan terkadang di buang. Dalam
pembuangan tersebut, ada yang boleh dibuang dan wajib di buang.
§ Contoh yang boleh di buang yaitu ketika dalil dari sebuah
pertanyaan.
أيَحْسبُ الانسان ألن نجمَعَ
عِكظامَه بلى قادرين على أن نسوِّيَ بنانَه ( القيامة : (3
§ Contoh yang wajib dibuang ketika:
a.
Hal
berfaidah mentaukidi makna yang terkandung dalam jumlah sebelumnya.
أخوك
عطوفا اى احقه عطوفازيد
b.
Hal
yang menempati tempatnya khobar.
ضربي
زيدا قائما اى يوجد قائما
c.
Hal
yang menjelaskan pengurangan atau penambahan.[8]
اشتريته بدرهم
فصائدا اى فذهب الثمن صاعدا
d.
Pembuangan
amil hal yang bersifat sama’i( سماعى).
هنيئا لك اى ثبت
لك الشيئ هنيئا
D.
SHOHIBUL HAL
Syaikh Mustofa algalayini mengatakan:
وصاحب الحال :
ما كانت الحال وصفا له فى المعنى
Jadi shohibul hal adalah subjek atau pelaku yang dijelaskan oleh hal
tentang keadaannya. Shohibul hal harus berupa isim ma’rifat, baik berupa isim
dlohir ataupun isim dlomir, seperti dalam kitab qawaidul assasiyah lillughoh
arbiyah:
والاصل فيه كما
في المبتدإ أن يكون معرفة لانّه محكوم عليه[9]
Oleh karena itu jika Shohibul hal berupa isim nakiroh maka harus
ada musawwighnya (sesuatu yang memperbolehkan Shohibul hal berupa nakiroh)
diantara musawwigh Shohibul hal nakiroh adalah :
1)
Hal
didahulukan dan Shohibul hal diakhirkan
Contoh : فِي الدَّارِ قَائِماً رَجُلٌ
Lafadz رَجُلٌ menjadi
Shohibul Haal قَائِماً dikarenakan susunan kalamnya berupa jar majrur.
Seperti juga syair yang disebutkan imam sibawaih [10]
وبالجسم
مني بينا لو علمته ۞ شحوب وان تستشهدى العين تشهد
وما لام نفسي
مثلها لى لائم ۞ ولا سد فقرى مثل ما ملكت يدى
2) Shohibul
Haal ditakhshish dengan sifat atau ditakhshish dengan idlofah.
·
Hal
ditakhshish dengan sifat
Contoh: ) :4 الدخان
) فِيْهَا
يَفْرَقُ كُلّ امرٍ حَكِيْمٍ امرًا مِنْ عِنْدَ ناَ
"pada malam lailatul qadar itu dijelaskan segala urusan yang penuh
hikmah yaitu urusan yang besar disisi kami"
Lafadz كُلّ امرٍ menjadi
shohibul haal lafadz امرًا karena disifati oleh lafadz حَكِيْمٍ
·
Dan
ada kalanya ditakhshish dengan Idhofah
contoh
:) فِي اَرْبَعَةِ اَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّا ئِلِيْنَ ( فصلت : 10
" dalam empat
masa (Penjelasan sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya"
3) Shohibul
hal jatuh setelah nafi atau syibh nafi (nahi atau istifham)
Contoh :
·
Shohibul
hal yang jatuh setelah nafi : مَا جَاءَ رَجُلٌ رَ كِيبًا
Lafadz مَا menjadi
nafi, lafadz جَاءَ menjadi ‘amil, lafadz رَجُلٌ menjadi shohibul haal, lafadz رَ كِيبًا manjadi
haal. Seperti dalam syair :
ما حمّ من موت حمى واقيا ۞ ولا
ترى من أحد بقيا
·
Shohibul
hal yang jatuh setelah Syibh nafi
Nahi
: لاَ تَضْرِبْ
رَجُلاً قَائِمًا
لايركنن
أحد الى الاحجام ۞ يوم الوغى متخوفا لحمام
Istifham
: هَلْ جَاءَ
رَجُلٌ رَكِيبًا
يا صح هل حمّ
عيش باقيا فترى ۞ لنفسك العذر فى ابعادها
الأملا
E.
PELETAKAN HAL
Hukum asalnya hal harus setelah Tamamul kalam yaitu hal berada
setelah shohibul hal dan amilnya, sangat jelas sekali yang ditulis oleh Syaikh
Al imam ash shonhaji:
وَلَايَكُوْنُ
الحَالُ اِلَّانَكِرَةً
وَلَايَكُوْنُ الَّابَعْدَ
تَمَامِ الْكَلَامِ
وَلَايَكُوْنُ صَاحِبُهَا
الَّامَعْرِفَة
·
Urutan
shohibul hal dengan hal
Hal mendahului shohibul hal yang marfu’ dan mansub dihukumi boleh,
seperti contohراكبا
سعيد جاء
Hal mendahului shohibul hal dihukumi wajib ketika:
1.
Shohibul
hal berupa isim nakiroh yang tidak memenuhi syarat,contoh :
جاء مسرعا رسول
2.
Shohibul
hal di hasr( حصر) ,contoh: ماشيا
الّا سليمماجاء
3.
Shohibul
hal dimudhofkan pada pada dhomir yang kembali pada lafad yang punya korelasi
dengan hal, contoh : وقف يخطب فى التلاميذ معلمهم
Shohibul hal mendahului hal( hal diakhirkan) dihukumi wajib ketika:
1.
Hal
di hasr, contoh: ) نرسل المرسلين الّا مبشرين و منذرين(الكهف: 56 وما
2.
Shohibul
hal dijerkan, contoh: بهند جالسة مررت
Tetapi menurut ibnu malik, alfarisi,
ibnu kisandan ibnu burhan memperbolehkan hal mendahului shohibul hal dengan
alasan ada syair :
لئن كان برد الماء هيمان صاديا
۞ اليّ حبيبا انّها لحبيب
3.
Hal
berupa jumlah dengan robit wawu, contoh: سافر الرسول وقد طلعت الشمس
·
Urutan
amil dan hal
Hukum asal hal itu diakhirkan dari amilnya tetapi terkadang boleh
didahulukan sepeti yang dikemukakan ibnu malik dalam kitabnya :
ان ينصب بفعل صرفا۞ أو صفة اشبهت المصرفوالحال
فجائز تقديمه كمسرعا ۞
ذا رحل ومخلصا
زيد دعا
Mendahulukan hal atas amilnya dihukumi boleh dengan syarat :
1.
Amil
berupa fiil mutasorrif, contoh: )
القمر: 7
أبصرهم يخرجون(خشّعا
2.
Amil
berupa isim sifat, contoh: مسرعا
ذا رحل
Mendahulukan hal atas amilnya dihukumi wajib ketika :
1.
Hal
berupa lafad yang wajib di dahulukan, contoh :
رجع سليم ؟
كيف
2.
Amil
berupa isim tafdhil yang punya dua hal, yang melebihkan shohibul hal satu atas
shohibul hal yang lain atau shohibul hal cuma satu yang melebihkan hal satu
atas hal yang lain, contoh: خالد فقيرا اكرم من خليل
غنيّا
سعيد ساكتا خير منه متكلما
3.
Amil
punya ma’na menyerupakan yang beramal pada dua hal, yaitu penyerupaan shohibul
hal pertama dengan shohibul hal yang lain,[11]
contoh: سليم ففيرا كزيد غنيّا
Mengakhirkan hal atas amilnya hukumnya wajib ketika :[12]
1.
Amil
berupa fiil jamid, contoh : احسن
الصديق وفيّا ما
2.
Amil
berupa masdar yang bisa ditaqdirkan dengan fiil dan huruf masdariyah, contoh: يعجبنى انجاز الصانع عمله
سريعا
3.
Amil
berupa isim fiil, contoh
: اى انزل
مسرعا نزالِ
4.
Amil
berupa ma’nawiyah(bermakna fiil tetapi tidak mencakup huruf fiil) yaitu isim
isyaroh, huruf tamanni, tasbih, dhorof dan jer majrur, contoh:
هذا كتابك جميلا اي اشير
5.
Amil
hal kemasukan perkara yang mencegah dahulunya ma’mul, seperti fiil madhi yang
di dahului lam ibtida’atau lam jawab qasam dan amil menjadi shilahnya al(ال) atau
huruf masdariyah , contoh: والله لقد تحملت صابرا
6.
Hal
berupa jumlah dengan rhobit wawu, contoh: الكتاب والنفس صافية اقرأ
F. MACAM-MACAM HAL
Ditinjau dari beberapa
aspek, jenis hal banyak sekali. Diantaranya ditinjau dari segi bentuk
mufrod atau jumlah dan ditinjau dari segi faidahnya .
1. Hal ditinjau dari bentuk lafadnya
ü
Hal jumlah (serupa
jumlah)
Hal itu
lafadnya ada yang berbentuk mufrod(bukan jumlah) seperti contoh-contoh yang
lalu. Dan juga ada hal yang berbentuk jumlah, baik dari jumlah ismiyah dan jumlah
fi’liyah maupun yang serupa dengan jumlah yaitu dhorof dan jer majrur, yang
mengandung robit yang menghubungkannya pada shohibul halnya
(baik berupa dhomir, wawu atau keduanya). Contoh:
a. Terdiri dari jumlah ismiyah
جَاءَ زَيْدٌ وَهُوَ نَاوٍ رِحْلَةً
b. Terdiri dari jumlah fi’liyah
وَجَاؤُوْا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُوْنَ (يوسف : 16)
c.Terdiri dari dhorof
atau jer majrur
نظرت العصفور على الغصن
رأيت الهلال بين السحاب
Hukum asal hal, khobar
dan sifat adalah mufrod, tetapi yang selain mufrod yaitu berupa jumlah juga
ada. Seperti juga khobar dan sifat yang berupa jumlah, hal jumlah wajib
mempunyai robit. Yaitu: adakalnya berupa dhomir, wawu atau wawu dan dhomir.
Jika hal berupa jumlah
fi’liyah yang fi’ilnya berupa fi’il mudhari’ musbat (tidak
dinafikan), maka robithnya harus berupa dhomir (tidak boleh berupa wawu
atau berupa wawu dan dlomir). Jadi jika dalam kalimat bahasa Arab pada dhahirnya
seakakan-akan robithnya berupa wawu, maka harus menaqdirkan mubtada’ yang
dibuang dan jumlah yang jatuh setelahnya tersebut menjadi khabarnya. Contoh:
→ Robithnya berupa dlomir
جَاءَ عَبْدُ اللهِ إِلَى الْمَعْهَدِ مَعَ أَصْحَابِهِ يَجْمِلُ كِتَابَ
النَّحْوِ
→ Robithnya berupa wawu dan mengira-ngirakan mubtada’
قُمْتُ وَأَصُكُّ عَيْنَهُ Taqdirnya قُمْتُ أَنَا وَأَصُكُّ عَيْنَه
Jika jumlah yang
menjadi hal itu selain jumlah yang tersebut di atas (jadi terdiri
dari jumlah ismiyah/fi’liyah yang fi’ilnya berupa fi’il madly atau berupa fi’il
mudhari’ yang didahului oleh nafi), maka robithnya boleh berupa dlomir,
wawu atau keduanya.
Contoh:
→ Robithnya berupa dlomir
قَامَ مُحَمَّدٌ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ
→ Robithnya berupa wawu
جَاءَ مُحَمَّدٌ وَقَدْتَدَبَّرَ الطَّلَبَةُ عَلَى دِفَاعِ
النَّفْسِ
→ Robithnya berupa wawu dan dlomir.
قَامَ مُحَمَّدٌ وَيَدُهُ عَلَى صَدْرِهِ
Syarat-syarat jumlah
yang dijadikan hal ialah, sebagai berikut:
1) Harus terdiri dari dan
jumlah khabariyah, tidak dari jumlahthalabiyah dan jumlah
ta’ajjubiyah.
2) Tidak dimulai dengan alamat
istiqlal (huruf-huruf yang menunjukkan arti sesuatu yang akan datang).
3) Harus mengandung robith (penghubung)
yang menghubungkan pada shohibul hal.
2.
hal ditinjau dari faedahnya
ü Mu’assisah : Haal yang untuk memperjelas kalam yang dirasa kurang
sempurna bila kalam tersebut tidak mencantumkan Hal.
ü Mu’akkidah
1) Mu’akkidah lil ‘Amil : posisi
hal memperkuat makna ‘amil dalam mengutarakan kalam pada mukhottab,
contoh :لاَ تَعْثَ فِي الاَ رْضِ مُفْسِدًا
Dalam
contoh tersebut lafadz تَعْثَ dan مُفْسِدًا ialah bersinonim karena tujuan
mengutarakan kalam tersebut ialah jangan berbuat kerusakan.
2) Mu’akkidah
lil Shohibil Haal
Contoh
: قَامَ القَوْمُ
كُلِّهِمْ جَمِيْعاً
Lafadz جَمِيْعاً berposisi
memperkuat dhomir هُمْ yang kembali pada lafadz اَلقَوْمُ
3) Mu’akkidah li madmunil jumlah
qoblaha
Dalam penegasan
ini Haal harus disimpan ‘amilnya dan lafadz Halnya harus berada di akhir (jatuh
setelah jumlah). Contoh :اَنَا
زَيْدٌ مَعْرُوْفاً
Dalam contoh tersebut haal berposisi menguatkan jumlah sebelumnya
sedang yang menashobkan haal ialah amil yang disimpan yaitu مَعْرُوْفاً اَحَقُّ
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
hal adalah sifat yang fadhlah lagi dinasabkan dan memberi
keterangan keadaan shohibul hal.
Syarat hal berupa isim sifat yang muntaqil, mustaq dan
nakiroh. Hal harus mempunyai amil dan shohibul hal. Selain mufrod hal juga ada
yang jumlah. Kegunaan hal sebagai penjelas dan mentaukidi.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiah ibnu malik
Syarah ibnu aqil
Syarah bahjahtul murdhiah
Qawaidul assasiayah
Nahwu wafi
Taswiqul kholan
Mukhtasor jiddan
Jamiiud durus
Qawaidul lughoh
alarobiyyah
Mu’jamul mufasshol fil i’rob
[1] Syarah
muhtasor jiddan. alhidayah.Surabaya. hal: 200
[2] Alfiah
ibnu malik. Alharomain.hal:90
[3] Nahwu
wafi. Hal: 364
[4] Alfiah
ibnu malik, alharomain. hal:91
[5] Jami’ud
durus alarobiyah. Darul kutub al ilmiyah juz 3 hal: 62
[6] Qawaidul
lughoh alarobiyah. Alhidayah.hal:67
[7] Taswiqul
qolan. Hal: 200
[8] Jamiud
durus alarobiyyah. Darul kutub alarobiyyah juz 3. Hal:72
[9] Qawaidul
assasiyah lillughoh arobiyah.Dar fikr. hal:227
[10] Ibnu
aqil. Alharomain.hal:91
[11]
Qawaidul asasiyah lil lughoh arabiyah. Dar fikr . hal:229,230
[12] Nahwu
wafi, hal :380,381
Subscribe to:
Posts (Atom)