MAKALAH
AKSIOLOGI
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Pembimbing:
Ahmad
Taqiyuddin, M.HI
Penyusun
:
Miftahul huda
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM BAHRUL ‘ULUM
TAMBAK BERAS
JOMBANG
2014
Aksiologi adalah salah satu cabang filsafat
yang memiliki kedudukan yang sangat penting karena akan menentukan kearah mana ilmu
pengetahuan itu ditujukan ,apa akibat yang ditimbulkan, bagaimana seharusnya dan
sebagainya.
A.
Pengertian Aksiologi
Menurut bahasa Yunani,
aksiologi berasal dari
kata axios artinya nilai dan logos
artinya teori atau ilmu.
Aksiologi disebut juga teori nilai.
Menurut Kamus Bahasa
Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia,
kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.[1] Menurut
John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu system seperti politik,
social dan agama.
Sedangkan menurut Richard bender suatu nilai adalah sebuah pengalaman yang memberikan kepuasan batin dan memiliki nilai manfaat pada kehidupan.[2] Menurut Surajiyo, aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak
ukur kebenaran, etika dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian,
serta penerapan ilmu.[3] Jadi, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki nilai.
Jika epistemology menyelidiki bertujuan untuk mendapatkan kebenaran secara teoritis-rasional,
maka aksiologi lebih menekankan pada masalah kebaikan, dan estetika terkait erat
dengan masalah keindahan.[4]
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu
yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut.
Jadi hakikat yang
ingin dicapai aksiologi adalah hakikat dan manfaat
yang terdapat dalam suatu pengetahuan.
Jadi objek kajian aksiologi adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena ilmu dalam konteks filsafat tidak bebas nilai.
Artinya pada tahap-tahap tertentu,
ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan
moral sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat dirasakan oleh masyarakat.
Secara historis,
istilah yang lebih umum dipakai adalah etika
(ethic) atau moral. Tetapi dewasa ini istilah aksiologi lebih akrab dipakai dalam
dialog filosofis. Jadi, aksiologi biasa disebut sebagai
the theory of falue atau teori nilai.
Bagian dari filsafat
yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk
(good and bad), benar dan salah (right
and wrong), serta tata cara dan tujuan (mean
and end).
Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori
yang konsisten untuk perilaku etis.
Ia bertanya seperti apakah baik itu
? tatkala yang baik terindetifikasi, maka kemunkinan seseorang untuk berbicara tentang moralitas,
yakni memakai
kata-kata atau konsep-konsep semacam
“seharusnya” atau “sepatutnya”. Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan,
keputusan, dan kosep-konsep
moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.[5]
B.
Nilai Dalam Aksiologi
Dalam aksiologi ada dua komponen
yang mendasar yakni Etika dan Estetika.
1.
Etika
Istilah etika berasal dari bahasa yunani
“ethos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain dinamakan moral yang
berasal dari bahasa latin “mores”, kata jamak dari mos yang berarti adat
kebiasaan.[6]
Etika adalah cabang filsafat aksiologi
yang membahas masalah-masalah
moral. Kajian etika lebih
fokus
pada perilaku,
norma, dan adat istiadat yang
berlaku pada komunitas tertentu.
Etika merupakan cabang filsafat tertua karena ia telah menjadi kajian menarik sejak masa sokrates dan
para kaum sophis. Di situlah dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan,
keadilan dan sebaginya.
Jadi, tema sentral yang menjadi pembicaraan dalam etika adalah nilai
“betul” (right) dan
“salah” (wrong) dalam arti
moral dan immoral.[7]
Hasil kupasan-kupasan kitab suci dan prestasi akal kaum filsafat maka
timbullah beberapa macam aliran dalam filsafat etika. Dan diantara yang paling
terkenal ada enam aliran yaitu :
a. Naturalisme
Aliran ini menganggap bahwa kebahagiaan
manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natur(fitrah) dari kejadian
manusia itu sendiri. Perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah
perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan natur manusia. Baik mengenai fitrah
lahir ataupun batin. Kalau lebih menekankan pada fitrah lahirnya dinamakan
aliran etika materialisme. Tetapi pada aliran naturalisme ini faktor lahir
batin itu sama pentingnya sebab kedua-duanya adalah fitrah (natur) manusia.
Aliran ini cara pemikiranya tentang etika
adalah sebagai berikut: Di dalam dunia ini segala sesuatu menuju satu tujuan saja. Dengan memenuhi
panggilan naturnya masing-masing mereka menuju kebahagiaannya yang sempurna.
Benda mati dan tumbuhan menuju pada tujuan itu secara otomatis yakni tanpa pertimbangan atau perasaan. Kalau
hewan-hewan menuju tujuan dengan instinct (naluri)-nya maka manusia menuju
tujuannya itu dengan akal.
b. Hedonisme
Menurut aliran hedonisme ini perbuatan yang
baik (susila) itu adalah perbuatan yang menimbulkan dedone(kenikmatan atau
kelezatan). Dan contoh yang terkenal dari aliran hedonisme ini ialah etika kaum
Epikurisme. (mazdhab epikuros dibangun oleh epikuros: 341-270 SM).[8]
Menurut Epikuros semua manusia ingin mencapai
kelezatan(hedone). Begitu juga hewan ingin mencapai kelezatan. Dan semua
didorong oleh watak manusia dan bukan disebabkan oleh pelajaran atau pemikiran
akal. Dan karena semua sudah menjadi watak(tabiat) manusia ingin kepada
kelezatan itu, maka diteruskan tujuan hidup manusia semua adalah mencari
kelezatan. Dan karena kelezatan merupakan tujuan, maka semua jalan yang
mencapaikan kepadanya adalah suatu hal yang utama atau berharga. Akal,
pengetahuan serta kebijaksanaan dianggap keutamaan karena mereka juga jalan
menuju kelezatan itu.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa segala sesuatu
yang lezat adalah baik, tetapi menurut Epikuros sebenarnya setiap yang yang
lezat adalah baik. Dan semua jalan kepadanya juga adalah baik.
c. Utilitarisme
Aliran ini juga dinamakan utilisme atau
utilitarianisme. Semua ditarik dari utility yang berarti manfaat. Definisinya,
aliran utilitarisme ialah aliran yang menilai baik dan buruk perbuatan itu
ditinjau dari kecil besarnya manfaatnya bagi manusia.
Tokoh yang terpenting dalam aliran ini ialah
John stuart mill. Menurutnya yang dinamakan kebaikan tertinggi ialah
utility(manfaat). Dari penyelidikanya bahwa tiap-tiap pekerjaan manusia
diarahkan kepada manfaat. Jadi ukuran baik-buruknya suatu perbuatan itu harus
diukur dari manfaat yang dihasilkan.
Yang dinamakan manfaat menurut J.S. Mill ialah
suatu kebahagiaan untuk jumlah manusia yang sebesar-besarnya. “utility is
happiness for the greateast number of sentient beings”.[9]
Dengan demikian etika menurut aliran ini ialah
mencapai kesenangan hidup sebanyak mungkin baok dilihat dari segi quality
ataupun quantity.
d. Idealisme
Aliran idealisme dalam hal metafisika
berpendirian bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah yang bersifat
kerohanian. Begitu juga dalam masalah etika aliran idealisme ini berpendapat
bahwa perbuatan manusia haruslah tidak terikat pada sebab-musabab lahir tetapi
setiap perbuatan manusia haruslah terikat pada prinsip kerohanian yang lebih
tinggi.
Contoh yang terbaik dari aliran etika
idealisme ini adalah ajaran kantianisme ( ajaran Immanuel kant: 1725-1804).
Dalam hal etika Kant mempergunakan akal praktis. Akal yang praktis ini artinya
dalam etika ialah akal yang menjadi pedoman untuk bertindak(praktek)
sehari-hari untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat.
e. Vitalisme
Aliran ini menilai baik buruknya perbuatan
manusia memakai ukuran ada tidaknya daya hidup yang maksimum
mengendalikan perbuatan itu. Yang dianggap baik menurut aliran ini ialah orang
yang kuat yang dapat memaksakan dan melangsungkan kehendaknya yang berkuasa dan
sanggup menjadikan dirinya selalu ditaati oleh orang-orang yang lemah.
Tokoh terkenal dari aliran ini adalah
Friendich nietzsche (1844-1900). Nietzsche dalam filsafat menonjolkan
eksistensi (perwujudan) manusia baru sebagai Ubermensch yang berkemauan
keras menempuh hidup baru sebagai dewa yang menghancurkan yang lama dan
menciptakan yang baru sama sekali.
f. Theologis
Aliran ini berpendapat bahwa ukuran baik dan
buruk dalam perbuatan manusia itu diukur dengan pertanyaan apakah dia sesuai
dengan perintah tuhan atau tidak. Amal perbuatan yang baik menurut aliran ini
ialah amal perbuatan yang sesuai dengan perintah Tuhan yang tertulis dalam
Kitab suci. Sedang perbuatan-perbuatan yang buruk ialah bertentangan dengan
perintah tuhan atau mengerjakan larangan-larangan Tuhan.
2. Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang
mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam
diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan
harmonis dalam suatu hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu
objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik
melainkan harus juga mempunyai kepribadian .
Estetika dibedakan antara suatu bagian
deskriktif dan bagian normatif. Bagian deskriktif menggambarkan gejala-gejala
pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif mencari dasar pengalaman itu.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu
kualitas objek, melaikan melaikan sesuatu yang senantiasa berhubungan dengan
perasaan.
C.
Karakteristik Nilai
Ada beberapa beberapa karakteristik nilai yang
berkaitan dengan teori nilai(the theory of value), yaitu :
1. Nilai objektif atau subjektif.
Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung
pada subjek atau kesadaran yang menilai. Sebaliknya nilai itu subjektif jika
eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang
melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau
fisik.
Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya,
bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu
melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila
subjek berperan dalam memberi penilaian, kesadaran
manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu
memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti
perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak
senang.
2. Nilai absolute atau relatif.
Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi,
apabila nilai yang berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa,
berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras, maupunkelas sosial. Dipihak lain
ada yang beranggapan bahwa semua nilai relativesesuai dengan keingginan dan
harapan manusia.
Kaitannya dengan tingkatan atau hierarki
nilai, terdapat beberapa pandangan diantaranya adalah: Kaum idealis
berpandangan bahwa nilai spiritual memiliki tingkatan yang lebih tinggi
dibanding nilai non spiritual (nilai material). Kaum realis menempatkan nilai
rasioanal dan empiris pada tingkatan teratas, karena nilai rasionalitas
tersebut akan membantu manusia menemukan realitas objektif, hukum-hukum alam
dan aturan berberfikir logis. Dan kaum pragmatis yang berpandangan bahwa suatu
aktifitas dikatakan baik apabila memuaskan kebutuhan primer seseorang dan
memiliki nilai instrumental. Biasanya mereka sangat sensitive terhadap
nilai-nilai yang menghargai masyarakat.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa
peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu yang dikembangkan untuk
memudahkan hidup manusia agar lebih mudah dan nyaman. Dewasa ini ilmu bahkan
sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan
manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan hanya menimbulkan gejala dehumanisasi
bahkan diprediksikan ilmu akan mengubah hakikat manusia itu sendiri, atau
dengan kata lain, ilmu bukan hanya sebagai sarana yang membantu manusia mencapai
tujuan hidupnya tetapi ilmu, namun kemungkinan mengubah hakikat manusia itu
sendiri bukan lagi goethe yang menciptakan faust melainkan faust yang menciptakan goethe.
Atau yang dipakai Kark Marx “god does not create happines but human creates
happines”.
Menghadapi kenyataan ini ilmu yang pada
hakikatnya mempelajari alam sebagai mana adanya mulai mempertanyakan hal yang
bersifat seharusnya, untuk apa sebenarnya ilmu itu harus digunakan? Dimana batasnya? Kearah mana ilmu akan berkembang? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan
urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatanya. Namun
bagi ilmuwan yang hidup abad 20 bayangan kekhawatiran perang dunia yang ketiga,
pertanyaan ini tidak dapat terelakan lagi.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya, ilmu
sudah terkait denagan masalah-masalah moral namun dalam prespektif yang
berbeda. Ketika Copernicus mengatakan bumi berputar mengelilingi matahari dan
bukan sebalinya yang dinyatakan dalam ajaran agama, maka timbulah interaksi
antara ilmu dan moral (yang bersumber dari agama) yang berkonotasi metafisik.
Secara metafisik ilmu inggin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di
pihak lain, terdapat keingginan agar ilmu mendasarkan pada
pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran agama.
Timbulah konflik yang bersumber pada penafsiran meta fisik ini yang menyebabkan
pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Oleh pengadilan agama tersebut
Galileo dipaksa mencabut pernyataanya.
Sejarah kemanusiaan dihiasi para martir yang
rela menggorbankan nyawa demi mempertahankan apa yang mereka anggap benar.
Kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa
landasan moral para ilmuwan akan mudah tergelincir dalam prostitusi
intelektual. Penalaran secara rasional sekarang berganti dengan proses
rasionalisasi yang mendustakan kebenaran.
DAFTAR PUSTAKA
AdmojoWihadi, et.al..Kamus Bahasa
Indonesia. Jakarta: BalaiPustaka.
Ali Abri , MA, Filsafat Umum suatu Pengantar
.Untukkalangansendiri .
Choirul bashori. Filsafat .Semarang: IAIN wali songo,1986
Surajiyo. FilsafatI lmu dan Perkembangannya
di Indonesia. Jakarta: BumiAksara. 2007
Louis O.Kattsof. pengantar filsafat. Alihbahasasoejonosoemargono .Yogyakarta :
Tiara Wacana
Loekisno choiril dkk.pengantar
filsafat.surabaya:sunan ampel press.2012
Suwardi endraswara. Filsafat ilmu.yogyakarta:
CAPS.2012
[1]AdmojoWihadi, et.al..KamusBahasa Indonesia. Jakarta: BalaiPustaka.
1998, hal.19
[2] Ali Abri , MA, FilsafatUmumsuatuPengantar .Untukkalangansendiri
.Hal.33
[3]Surajiyo. FilsafatIlmudanPerkembangannya di Indonesia. Jakarta:
BumiAksara. 2007, hal.152
[4] Louis O.Kattsof. pengantarfilsafat.
Alihbahasasoejonosoemargono .Yogyakarta : Tiara Wacana .1996, hal.327
[7]Loekisno choiril warsito dkk, pengantar filsafat (Surabaya: IAIN sunan ampel press, 2012),
hal .95