Sunday, 28 April 2019

Maf'ul Ma'ah

اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ هُوَ اسْمٌ مَنْصُبٌ وَقَعَ بَعْدَ وَاوٍ بِمَعْنَى مَعَ لِيَدُلَّ عَلَى شَيْئِ حَصَلَ الفِعْلُ بِمُصَاحَبِتِهِ (أيْ مَعَهُ)
Yaitu isim yang dibaca nashab yang jatuh sesudah waw (واو ) yang berarti; menyertai, untuk menunjukkan sesuatu hasil perbuatan dengan menyertainya,
Atau redaksi lain :
اَلْمَفْعُولُ مَعَهُ هُوَ الاِسْمٌ المَنْصُبُ اَلْمَذْكُرُ بَعْدَ الْواوِ المَعِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَقْرِنٍ فِى الحُكْمِ
Yaitu isim yang dibaca nasab yang disebutkan setelah wawu ma’iyyah tanpa bersamaan dengan hukumnya
Contoh :
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ = Tono berjalan menyertai gunung

Jadi maf’ul ma’ah adalah isim yang mempunyai kedudukan jabatannya sesudah waw (واو ) yang berarti; menyertai atau serta, maka di sini kalau diartikan secara harfiyah, kalimat tersebut di atas menjadi : Tono berjalan dan gunung, tetapi berjalan dan gunung di sini maksudnya ialah Tono berjalan di lereng gunung, bukan berarti Tono berjalan bersama dengan gunung, dengan kata lain ia senantiasa berjalan seolah –olah di sebelah gunung.

Penjelasannya :
Isim yang dijadikan maf’uul ma’ah harus dijadikan berharokat nashab contoh :
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ Tono berjalan menyertai gunung
Lafazh وَالجَبَلَ harus berharokat nashab fathah

SYARAT – SYARAT KALIMAH YANG DILETAKAN SEBELUM MAF’UUL MA’AH YAITU ADA TIGA :
1. Isim yang terletak setelah واو wawu yang bermakna مَعَ
2. Isim terletak setelah fi’il
3. ‘amil maf’uul ma’ah harus didahulukan

SYARAT SYARAT MAF’UL MA’AH
1. Berbentuk isim Fadhlah
maksudnya adanya isim tersebut termasuk kelebihan (bukan pokok) artinya tanpa adanya isim tersebut sebenarnya jumlah tersebut sudah bisa dipahami, contoh :
دَعِ الظَّالِمَ وَالأَيَّامَ “ ajak lah orang – orang dholim bersamaan hari – hari”
2. Sebelum Wawu Ma’iyyah ada Jumlah contoh
جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ “ raja datang bersamaan dengan prajurit”
3. Wawu tersebut bermakna “ Ma’ah “
سَارَ تُونُو وَالجَبَلَ Tono berjalan menyertai gunung

HUKUM-HUKUM KALIMAT ISIM YANG JATUH SETELAH WAWU
Dalam hal ini ada empat macam hukum kalimat yang jatuh setelah wawu
1) Wajib dibaca Nashob (Wawu Ma’iyyah)
Dalam hal ini jika sudah memenuhi tiga syarat di atas.
Contoh :
سَافَرَ خَلِيْلٌ وَاللَّيْلَ “ kholil bepergian bersamaan dengan malam”
Kata “الليلَ “ wajib dibaca nashob karena jatuh setelah wawu ma’iyyah, dan jika diatofkan malah akan merusak makna kalam.
2) Wajib athof (wawu Athof)
Dalam hal ini jika tidak memenuhi tga syarat di atas, contoh :
وسعيدٌٌ جَاءَ خَالِدٌ “ kholid datang bersamaan dengan said”

AMIL PADA MAF’UL MA’AH
Seperti yang kita tahu pada definisi maf’ul ma’ah di atas kita ketahui bahwa yang membuat maf’ul ma’ah dibaca nashob adalah fi’ilnya atau isim yang menyerupai fi’il (syibhu fi’il) contoh :
جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ “ raja datang bersamaan dengan prajurit”
Akan tetapi terkadang amil maf’ul ma’ah juga dikira-kirakan. Hal itu jika jatuh setelah “ما وكيفَ “ istifhamiyyah. Contoh :
ما أنتَ وخالداً وما لك وسعيداً
Hal tersebut tetap menggunakan amil fi’il akan tetapi dikira-kirakan, jika ditampakkan berbunyi :
ما تَكُونُ وخالداً؟ وما حَاصَلَ لكَ