Monday, 12 May 2014

makalah aksiologi



MAKALAH
AKSIOLOGI

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

 











Pembimbing:
Ahmad Taqiyuddin, M.HI



Penyusun :

Miftahul huda



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BAHRUL ‘ULUM
TAMBAK BERAS JOMBANG
2014


Aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang memiliki kedudukan yang sangat penting karena akan menentukan kearah mana ilmu pengetahuan itu ditujukan ,apa akibat yang ditimbulkan, bagaimana seharusnya dan sebagainya.
A.        Pengertian Aksiologi
Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Aksiologi disebut juga teori nilai. Menurut Kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.[1] Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu system seperti politik, social dan agama. Sedangkan menurut  Richard bender suatu nilai adalah sebuah pengalaman yang memberikan kepuasan batin dan memiliki nilai manfaat pada kehidupan.[2] Menurut Surajiyo, aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu.[3] Jadi, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki nilai. Jika epistemology menyelidiki bertujuan untuk mendapatkan kebenaran secara teoritis-rasional, maka aksiologi lebih menekankan pada masalah kebaikan, dan estetika terkait erat dengan masalah keindahan.[4]
            Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut. Jadi hakikat yang ingin dicapai aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan. Jadi objek kajian aksiologi adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena ilmu dalam konteks filsafat tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu, ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat dirasakan oleh masyarakat.
            Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethic) atau moral. Tetapi dewasa ini istilah aksiologi lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi biasa disebut sebagai the theory of falue atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tata cara dan tujuan (mean and end).
            Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Ia bertanya seperti apakah baik itu ? tatkala yang baik terindetifikasi,  maka kemunkinan seseorang untuk berbicara tentang moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep-konsep semacam “seharusnya” atau “sepatutnya”. Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan kosep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.[5]
B.         Nilai Dalam Aksiologi
            Dalam aksiologi ada dua komponen yang mendasar yakni Etika dan Estetika.
1.      Etika
Istilah etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain dinamakan moral yang berasal dari bahasa latin “mores”, kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan.[6]
 Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang membahas masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma, dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Etika merupakan cabang filsafat tertua karena ia telah menjadi kajian menarik sejak masa sokrates dan para kaum sophis. Di situlah dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebaginya. Jadi, tema sentral yang menjadi pembicaraan dalam etika adalah nilai “betul” (right) dan “salah” (wrong) dalam arti moral dan immoral.[7]
Hasil kupasan-kupasan kitab suci dan prestasi akal kaum filsafat maka timbullah beberapa macam aliran dalam filsafat etika. Dan diantara yang paling terkenal ada enam aliran yaitu :
a.       Naturalisme
Aliran ini menganggap bahwa kebahagiaan manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natur(fitrah) dari kejadian manusia itu sendiri. Perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan natur manusia. Baik mengenai fitrah lahir ataupun batin. Kalau lebih menekankan pada fitrah lahirnya dinamakan aliran etika materialisme. Tetapi pada aliran naturalisme ini faktor lahir batin itu sama pentingnya sebab kedua-duanya adalah fitrah (natur) manusia.
Aliran ini cara pemikiranya tentang etika adalah sebagai berikut: Di dalam dunia ini segala sesuatu  menuju satu tujuan saja. Dengan memenuhi panggilan naturnya masing-masing mereka menuju kebahagiaannya yang sempurna. Benda mati dan tumbuhan menuju pada tujuan itu secara otomatis  yakni tanpa pertimbangan atau perasaan. Kalau hewan-hewan menuju tujuan dengan instinct (naluri)-nya maka manusia menuju tujuannya itu dengan akal.
b.      Hedonisme
Menurut aliran hedonisme ini perbuatan yang baik (susila) itu adalah perbuatan yang menimbulkan dedone(kenikmatan atau kelezatan). Dan contoh yang terkenal dari aliran hedonisme ini ialah etika kaum Epikurisme. (mazdhab epikuros dibangun oleh epikuros: 341-270 SM).[8]
Menurut Epikuros semua manusia ingin mencapai kelezatan(hedone). Begitu juga hewan ingin mencapai kelezatan. Dan semua didorong oleh watak manusia dan bukan disebabkan oleh pelajaran atau pemikiran akal. Dan karena semua sudah menjadi watak(tabiat) manusia ingin kepada kelezatan itu, maka diteruskan tujuan hidup manusia semua adalah mencari kelezatan. Dan karena kelezatan merupakan tujuan, maka semua jalan yang mencapaikan kepadanya adalah suatu hal yang utama atau berharga. Akal, pengetahuan serta kebijaksanaan dianggap keutamaan karena mereka juga jalan menuju kelezatan itu.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang lezat adalah baik, tetapi menurut Epikuros sebenarnya setiap yang yang lezat adalah baik. Dan semua jalan kepadanya juga adalah baik.
c.       Utilitarisme
Aliran ini juga dinamakan utilisme atau utilitarianisme. Semua ditarik dari utility yang berarti manfaat. Definisinya, aliran utilitarisme ialah aliran yang menilai baik dan buruk perbuatan itu ditinjau dari kecil besarnya manfaatnya bagi manusia.
Tokoh yang terpenting dalam aliran ini ialah John stuart mill. Menurutnya yang dinamakan kebaikan tertinggi ialah utility(manfaat). Dari penyelidikanya bahwa tiap-tiap pekerjaan manusia diarahkan kepada manfaat. Jadi ukuran baik-buruknya suatu perbuatan itu harus diukur dari manfaat yang dihasilkan.
Yang dinamakan manfaat menurut J.S. Mill ialah suatu kebahagiaan untuk jumlah manusia yang sebesar-besarnya. “utility is happiness for the greateast number of sentient beings”.[9]
Dengan demikian etika menurut aliran ini ialah mencapai kesenangan hidup sebanyak mungkin baok dilihat dari segi quality ataupun quantity.
d.      Idealisme
Aliran idealisme dalam hal metafisika berpendirian bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah yang bersifat kerohanian. Begitu juga dalam masalah etika aliran idealisme ini berpendapat bahwa perbuatan manusia haruslah tidak terikat pada sebab-musabab lahir tetapi setiap perbuatan manusia haruslah terikat pada prinsip kerohanian yang lebih tinggi.
Contoh yang terbaik dari aliran etika idealisme ini adalah ajaran kantianisme ( ajaran Immanuel kant: 1725-1804). Dalam hal etika Kant mempergunakan akal praktis. Akal yang praktis ini artinya dalam etika ialah akal yang menjadi pedoman untuk bertindak(praktek) sehari-hari untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat.
e.       Vitalisme
Aliran ini menilai baik buruknya perbuatan manusia memakai ukuran ada tidaknya daya hidup yang maksimum mengendalikan perbuatan itu. Yang dianggap baik menurut aliran ini ialah orang yang kuat yang dapat memaksakan dan melangsungkan kehendaknya yang berkuasa dan sanggup menjadikan dirinya selalu ditaati oleh orang-orang yang lemah.
Tokoh terkenal dari aliran ini adalah Friendich nietzsche (1844-1900). Nietzsche dalam filsafat menonjolkan eksistensi (perwujudan) manusia baru sebagai Ubermensch yang berkemauan keras menempuh hidup baru sebagai dewa yang menghancurkan yang lama dan menciptakan yang baru sama sekali.
f.       Theologis
Aliran ini berpendapat bahwa ukuran baik dan buruk dalam perbuatan manusia itu diukur dengan pertanyaan apakah dia sesuai dengan perintah tuhan atau tidak. Amal perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah amal perbuatan yang sesuai dengan perintah Tuhan yang tertulis dalam Kitab suci. Sedang perbuatan-perbuatan yang buruk ialah bertentangan dengan perintah tuhan atau mengerjakan larangan-larangan Tuhan.
2.      Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam suatu hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian .
Estetika dibedakan antara suatu bagian deskriktif dan bagian normatif. Bagian deskriktif menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif mencari dasar pengalaman itu.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melaikan melaikan sesuatu yang senantiasa berhubungan dengan perasaan.
C.        Karakteristik Nilai
Ada beberapa beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai(the theory of value), yaitu :
1.      Nilai objektif atau subjektif.
Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisik.
Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
2.      Nilai absolute atau relatif.
Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras, maupunkelas sosial. Dipihak lain ada yang beranggapan bahwa semua nilai relativesesuai dengan keingginan dan harapan manusia.
Kaitannya dengan tingkatan atau hierarki nilai, terdapat beberapa pandangan diantaranya adalah: Kaum idealis berpandangan bahwa nilai spiritual memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding nilai non spiritual (nilai material). Kaum realis menempatkan nilai rasioanal dan empiris pada tingkatan teratas, karena nilai rasionalitas tersebut akan membantu manusia menemukan realitas objektif, hukum-hukum alam dan aturan berberfikir logis. Dan kaum pragmatis yang berpandangan bahwa suatu aktifitas dikatakan baik apabila memuaskan kebutuhan primer seseorang dan memiliki nilai instrumental. Biasanya mereka sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu yang dikembangkan untuk memudahkan hidup manusia agar lebih mudah dan nyaman. Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan hanya menimbulkan gejala dehumanisasi bahkan diprediksikan ilmu akan mengubah hakikat manusia itu sendiri, atau dengan kata lain, ilmu bukan hanya sebagai sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya tetapi ilmu, namun kemungkinan mengubah hakikat manusia itu sendiri bukan lagi goethe yang menciptakan faust melainkan  faust yang menciptakan goethe. Atau yang dipakai Kark Marx “god does not create happines but human creates happines”.
Menghadapi kenyataan ini ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagai mana adanya mulai mempertanyakan hal yang bersifat seharusnya, untuk apa sebenarnya ilmu itu harus digunakan? Dimana batasnya? Kearah mana ilmu akan berkembang? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatanya. Namun bagi ilmuwan yang hidup abad 20 bayangan kekhawatiran perang dunia yang ketiga, pertanyaan ini tidak dapat terelakan lagi.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait denagan masalah-masalah moral namun dalam prespektif yang berbeda. Ketika Copernicus mengatakan bumi berputar mengelilingi matahari dan bukan sebalinya yang dinyatakan dalam ajaran agama, maka timbulah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber dari agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu inggin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keingginan agar ilmu mendasarkan pada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran agama. Timbulah konflik yang bersumber pada penafsiran meta fisik ini yang menyebabkan pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Oleh pengadilan agama tersebut Galileo dipaksa mencabut pernyataanya.
Sejarah kemanusiaan dihiasi para martir yang rela menggorbankan nyawa demi mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral para ilmuwan akan mudah tergelincir dalam prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional sekarang berganti dengan proses rasionalisasi yang mendustakan kebenaran.

















DAFTAR PUSTAKA
 AdmojoWihadi, et.al..Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: BalaiPustaka.
Ali Abri , MA, Filsafat Umum suatu Pengantar .Untukkalangansendiri .
Choirul bashori. Filsafat .Semarang: IAIN wali songo,1986
Surajiyo. FilsafatI lmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: BumiAksara. 2007
Louis O.Kattsof. pengantar filsafat.  Alihbahasasoejonosoemargono .Yogyakarta : Tiara Wacana
Loekisno choiril dkk.pengantar filsafat.surabaya:sunan ampel press.2012
Suwardi endraswara. Filsafat ilmu.yogyakarta: CAPS.2012


[1]AdmojoWihadi, et.al..KamusBahasa Indonesia. Jakarta: BalaiPustaka. 1998, hal.19
[2] Ali Abri , MA, FilsafatUmumsuatuPengantar .Untukkalangansendiri .Hal.33
[3]Surajiyo. FilsafatIlmudanPerkembangannya di Indonesia. Jakarta: BumiAksara. 2007, hal.152
[4] Louis O.Kattsof. pengantarfilsafat.  Alihbahasasoejonosoemargono .Yogyakarta : Tiara Wacana .1996, hal.327
[5]Uyoh sadullah, pengantar filsafat pendidikan (Bandung : Alfabeta CV,2007), hal. 36
[6] Hasbullah bakri, sistemik filsafat(jakarta: widjaja, 1970),hal.62
[7]Loekisno choiril warsito dkk, pengantar filsafat (Surabaya: IAIN  sunan ampel press, 2012), hal .95
[8] Hasbullah bakri, sistemik filsafat(jakarta: widjaja, 1970),hal.81
[9] Ibid. Hal:83